Senin, 08 08 2022
  Penyidik Bareskrim Polri Periksa Empat Tersangka ACT Siang Ini | Kafilah Rohil Lolos ke Babak Final Untuk Cabang Syarhil Qur"an | Menkopolhukam: Penanggulangan Karhutla Berjalan Baik | Pj Wali Kota Lantik Ketua dan Pengurus PWRI Pekanbaru | Pj Wali Kota Pekanbaru Lantik dan Kukuhkan Nelfiyona Sebagai Pustakawan Ahli Utama | Yasonna Laoly: Satukan Gerak Menyongsong Pemilu 2024
 
 
Jumat, 29/07/2022 - 07:55:38 WIB
Penyidik Bareskrim Polri Periksa Empat Tersangka ACT Siang Ini
Jumat, 29/07/2022 - 07:51:31 WIB
Kafilah Rohil Lolos ke Babak Final Untuk Cabang Syarhil Qur"an
Jumat, 29/07/2022 - 07:42:29 WIB
Menkopolhukam: Penanggulangan Karhutla Berjalan Baik
Jumat, 29/07/2022 - 07:38:44 WIB
Masa Bakti 2022-2027
Pj Wali Kota Lantik Ketua dan Pengurus PWRI Pekanbaru
Jumat, 29/07/2022 - 07:33:47 WIB
Pj Wali Kota Pekanbaru Lantik dan Kukuhkan Nelfiyona Sebagai Pustakawan Ahli Utama
Jumat, 29/07/2022 - 07:20:18 WIB
Buka Rakorbidnas Badan Hukum PDIP
Yasonna Laoly: Satukan Gerak Menyongsong Pemilu 2024
Rabu, 27/07/2022 - 12:39:52 WIB
Di Bagansiapiapi
Gubernur Riau Resmi Buka Perhelatan MTQ XL Tingkat Provinsi Riau
Senin, 21/09/2020 - 21:38:12 WIB
Dengan Penegakan Disiplin dan Sanksi Hukum Covid-19
KPU: Pilkada Tetap Dilangsungkan 9 Desember 2020
Senin, 24/02/2020 - 13:14:16 WIB
Dua TPS di Riau Tidak Terdata di Google Map
Rabu, 18/03/2020 - 09:52:22 WIB
Sesuai Jadwal
Menko Polhukam Pastikan Pelaksanaan Pilkada Tetap Berjalan
Jumat, 11/09/2020 - 21:03:09 WIB
PSI minta KPU hapus larangan iklan kampanye pilkada di Medsos
Sabtu, 15/02/2020 - 10:05:33 WIB
AHY Beri Sinyal Usung Kader di Pilkada Riau
Rabu, 05/05/2021 - 13:59:28 WIB
Presiden Jokowi: Rencana Kerja Pemerintah 2022 Usung Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural
Selasa, 01/06/2021 - 09:04:43 WIB
Pertamina Akan Rekrut Seluruh Pekerja Blok Rokan
 
Pemko Gunung Sitoli
Museum Pusaka Nias Taja Diskusi Publik
Magiao Satwa Langka Kini Terancam Punah

Pemko Gunung Sitoli - Laporan: Adi Eli Laoly - Jumat, 10/11/2017 - 22:45:30 WIB
Peserta dan narasumber pada acara diskusi publik, tampak serius memberikan pemikirannya, Jumat (10/11/2017), di Museum Pusaka Nias. [Foro: Adi Laoly]
Gunungsitoli, Riausidik.com - Untuk meningkatkan pelestarian salah satu satwa langka asli Pulau Nias, yakni Burung Magiao atau biasa dikenal sebagai Beo Nias. Museum Pusaka Nias menggelar diskusi publik dengan tema “Selamatkan Magiao sebagai Pusaka Alam Pulau Nias”, Jumat (10/11/2017).

Diskusi tersebut menghadirkan narasumber diantaranya Ketua Yayasan Pusaka Nias, Pastor Johannes M Hammerlle OFMCap, dan Direktur Museum Pusaka Nias, Nata"alui Duha SPd.

Pelaksanaan diskusi ini merupakan bagian dari perayaan Hari UIang Tahun (HUT) Museum Pusaka Nias (MPN) ke-22. Hal tersebut disampaikan ketua Panitia Hut MPN, David Richardo Wong, saat menyampaikan sambutannya.

“Kita ingin mengenalkan Magiao kepada seluruh masyarakat dari berbagai lapisan. Banyak kita ketahui anak-anak di Nias yang masih belum mengenal apa itu Magiao,” ujarnya.

Wong menambahkan, tidak semua burung beo yang diperdagangkan atau yang ada di rumah-rumah adalah beo asli Nias.

Diskusi ini, lanjutnya, merupakan wujud peran Museum Pusaka Nias dalam memotivasi kepedulian masyarakat terhadap satwa Magiao, sehingga masyarakat turut ambil bagian dalam upaya pelestarian Magiao.

“Kita lihat sendiri keberadaan Magiao dewasa ini cukup memprihatinkan. Harapan kita ke depannya, kita bisa melihat lebih banyak lagi burung Magiao berkeliaran di alam Pulau Nias,” tutupnya.

Hal senada juga dikatakan Pastor Johannes. Menurutnya, salah satu penyebab kepunahan burung Magiao ini dikarenakan penangkapan besar-besaran.

“Dahulu semua yang datang dan meninggalkan Pulau Nias ini selalu membawa Magiao. Entah untuk diperjualbelikan atau dikoleksi. Sehingga lama-kelamaan Magiao nyaris punah, tak terlihat lagi di alam bebas,” katanya.

Ia menceritakan, pada tahun 1886, seorang ahli Biologi asal Italia bernama Modilliani melakukan penelitian di Pulau Nias selama enam bulan terhadap burung Magiao. Dalam tulisan Modilliani dikatakan, Magiao merupakan burung beo tercerdas dan bertubuh paling besar di antara seluruh spesies burung beo yang ada di Indonesia.

Keunikan lainnya ialah, nama "Magiao" hanya untuk spesies beo yang ada di Pulau Nias. Berbeda dengan spesies beo asal daerah-daerah lain di Indonesia, yang tetap menggunakan nama "Beo".

Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan terselenggaranya diskusi publik ini.

Diketahui sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kota Gunungsitoli, dalam melestarikan Burung Magiao ini, telah dijadikan sebagai Maskot pada perayaan pesta Ya"ahowu, yang akan dirayakan mulai tanggal 23 hingga 26 November 2017, dan dipusatkan di Taman Yaahowu, Kota Gunungsitoli.

Diskusi publik ini diikuti puluhan masyarakat dari berbagai organisasi kemasyarakatan/kepemudaan, mahasiswa, pelajar, tokoh-tokoh masyarakat/adat, dan pegawai-pegawai ASN dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Gunungsitoli. ***

Editor: Yenni Tel.

 
 
HOME | ZONARiaU | POLITIK | EKONOMI | OLAHRAGA | PENDIDIKAN | BUDAYA | HUKUM | HIBURAN | NASIONAL | INTERNASIONAL | OTOMOTIF | INDEX
PROFIL | OPINI | PERDA | UNDANG-UNDANG | REDAKSI
Copyright 2011-2014 PT. Elis Pratama Media, All Rights Reserved