Minggu, 25 Juli 2021
  Bupati Kampar ; Jadikan Padi Kuning Kampar Varietas Unggul Nasional | Bupati Kampar Resmi Luncurkan Mobil Vaksin Keliling | Bupati Kampar Terima Rp 2,3 Milyar dari Pajak Tol Pekanbaru-Dumai | Catur Sugeng : Tingkatkan Pelayanan dan Jadi Tauladan bagi Masyarkat | Bupati Kampar: Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat | Bupati Kampar dampingi Kunjungan Wamen ATR/BPN RI
 
 
Kamis, 12/07/2021 - 17:53:16 WIB
Bupati Kampar ; Jadikan Padi Kuning Kampar Varietas Unggul Nasional
Senin, 09/07/2021 - 17:53:12 WIB
Bupati Kampar Resmi Luncurkan Mobil Vaksin Keliling
Jumat, 06/07/2021 - 17:53:11 WIB
Bupati Kampar Terima Rp 2,3 Milyar dari Pajak Tol Pekanbaru-Dumai
Senin, 02/07/2021 - 17:53:10 WIB
Lantik 21 Pejabat Pengawas dilingkungan Pemkab Kampar
Catur Sugeng : Tingkatkan Pelayanan dan Jadi Tauladan bagi Masyarkat
Sabtu, 22/06/2021 - 17:53:21 WIB
Saksikan Penandatangan MOU Antara PT. BKSE dengan PT .BBG
Bupati Kampar: Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat
Jumat, 21/06/2021 - 17:53:28 WIB
Percepatan Perubahan Fungsi Kawasan HPK Menjadi APK
Bupati Kampar dampingi Kunjungan Wamen ATR/BPN RI
Selasa, 18/06/2021 - 17:53:26 WIB
Bupati Kampar Hadiri RUPS Bank Riau Kepri
 
Hukum
KPK Konfirmasi Anak Nurdin Abdullah Soal Pembelian Aset oleh Ayahnya

Hukum - ant/mn - Kamis, 29/04/2021 - 22:27:28 WIB
Dokumentasi - Gubernur Sulsel (nonaktif) Nurdin Abdullah menciumi putranya M Fathul Fauzy Nurdin pada acara "mappasili" di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Makassar, Rabu (9/1/2019). (Foto istimewa)
Jakarta, Riausidik.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi wiraswasta M Fathul Fauzy Nurdin yang juga anak dari Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) nonaktif Nurdin Abdullah (NA) soal pembelian berbagai aset oleh ayahnya.

KPK, Rabu (28/4) telah memeriksa Fathul Fauzy sebagai saksi untuk tersangka Nurdin dan kawan-kawan dalam penyidikan kasus dugaan suap perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel Tahun Anggaran 2020-2021.

"Didalami pengetahuan yang bersangkutan antara lain terkait dengan dugaan adanya pembelian berbagai aset oleh tersangka NA yang sumber uang pembelian dari pemberian para kontraktor yang mengerjakan proyek di Pemprov Sulsel," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Selain itu, KPK pada Rabu (28/4) juga telah memeriksa tiga saksi lainnya untuk tersangka Nurdin dan kawan-kawan, yaitu wiraswasta/dari PT Banteng Laut Indonesia Akbar Nugraha, wiraswasta/Komisaris PT Nugraha Indonesia Timur Kendrik Wisan, dan wiraswasta Muhammad Irham Samad.

"Akbar Nugraha dan Kendrik Wisan, dikonfirmasi pengetahuan para saksi antara lain terkait dengan berbagai proyek yang dikerjakan di Pemprov Sulsel yang diduga atas rekomendasi tersangka NA melalui tersangka ER (Edy Rahmat)," ungkap Ali.

Sedangkan bertempat di Kantor Polrestabes Makassar, pemeriksaan pada saksi Muhammad Irham Samad didalami pengetahuannya terkait dugaan kepemilikan berbagai aset milik tersangka Nurdin.

Sebelumnya pada Selasa (27/4), KPK juga telah memeriksa wiraswasta Nike Anugrahani Nur Inayah sebagai saksi untuk tersangka Nurdin dan kawan-kawan di Gedung KPK, Jakarta.

"Yang bersangkutan dikonfirmasi antara lain terkait dengan dugaan aliran sejumlah dana dari tersangka NA," kata Ali.

Selain Nurdin, KPK juga telah menetapkan dua tersangka lainnya, yakni Edy Rahmat (ER) selaku Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Sulsel atau orang kepercayaan Nurdin dan Agung Sucipto (AS) selaku kontraktor/Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB).

Untuk Agung, tim penyidik KPK telah melaksanakan tahap II kepada tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya, berkas perkara tersangka Agung tersebut telah dinyatakan lengkap (P21) sesuai dengan hasil penelitian tim JPU.

Nurdin diduga menerima total Rp5,4 miliar dengan rincian pada 26 Februari 2021 menerima Rp2 miliar yang diserahkan melalui Edy dari Agung.

Selain itu, Nurdin juga diduga menerima uang dari kontraktor lain diantaranya pada akhir 2020 Nurdin menerima uang sebesar Rp200 juta, pertengahan Februari 2021 Nurdin melalui ajudan-nya bernama Syamsul Bahri menerima uang Rp1 miliar, dan awal Februari 2021 Nurdin melalui Syamsul Bahri menerima uang Rp2,2 miliar. ***
 
 
HOME | ZONARiaU | POLITIK | EKONOMI | OLAHRAGA | PENDIDIKAN | BUDAYA | HUKUM | HIBURAN | NASIONAL | INTERNASIONAL | OTOMOTIF | INDEX
PROFIL | OPINI | PERDA | UNDANG-UNDANG | REDAKSI
Copyright 2011-2014 PT. Elis Pratama Media, All Rights Reserved